Rabu, 04 Mei 2011

seperti angin,,,seperti hujan,,,

Seperti angin dan hujan
Malam ini agak beda. Yah..karena petang ini ada acara special. Entah special bagi siapa. Sebuah pesta kecil yang di sengaja di buat untuk seseorang yang besok akan meninggalkan tempat ini. Aku sama sekali malas mengikutinya. Pesta apapun. Entah mengapa orang begitu suka merayakan sesuatu yang ga jelas akan menghasilkan apa. Bagiku lebih mengasikkan membaca buku dengan loli pop ku sambil berharap besok semua akan berjalan baik-baik saja..
Aku datang paling telat. Semua anak buah ku sudah berkumpul di meja pertemuan tempat kami biasanya meeting atau mempersiapkan segala sesuatu buat event besok. Dan aku melihatnya. Dia.
“terima kasih untuk kehadiran semuanya. Kita berkumpul di sini untuk melepas kepergian teman dan saudara kita tercinta,,Aley..” tepuk tangan membahana dan senyum kegembiraan terpancar jelas dari 30 wajah yang sedang duduk mengelilingi meja lonjong itu. Ingin rasanya aku kabur saja.. “ Terima kasih bu Sasha..teman-teman yang tercinta..saya ga bisa bicara banyak..karena jujur saya ga tau harus ngomong apa saat ini..saya hanya bisa bilang..terima kasih..dan terima kasih atas segalanya selama ini..terima kasih…” ujarnya. Aku benci. Aku benar-benar ingin menghentikan waktu dan lari dari sana. Pokoknya aku ga mau melihat ini,,acara bullshit!!
Waktu berlalu dengan sangat lambat. Dia terlihat sangat bahagia. Dengan baju merahnya yang kontras dengan kulit putihnya yang agak kemerahan karena terbakar matahari. Dia melihatku..dan mengangguk pelan sambil tersenyum,,dan seperti biasa dia lalu berjalan melewatiku.. aku merasa muak. Mengapa manusia begitu naïf..dan membuatnya menjadi munafik? “ Des..” aku menoleh ke belakang. “Bu Sasha..” susah payah aku meredakan gejolak di dadaku barusan,,ga lucu kalo aku terlihat gelisah dan gugup di depan boss. “ Kamu kenapa..sakit ya..kok loyo gitu? Ini kan pesta..ya..meski kecil dan sederhana..kita kan harus gembira..” aku hanya menarik bibirku membentuk segaris tipis..aku mau pergi dari sini Tuhan..tolong buat listrik mati atau apa saja agar pesta ini kacau dan aku akan segera berlalu seperti kilat..” Kita jalan keluar yuk,,aku sudah lama ga ke kolam belakang Des..” “Tapi bu,,kalo ada yang nyari ibu gimana?” “ Nanti kan tahu juga..ayo..” aku benar-benar mati kutu. Ku edarkan pandangan. Kali ini aku salah mengarahkan tatapanku. Dia sedang tertawa ngakak sampai terguncang ke dua bahunya dengan Ryan. Aku benar-benar ingin meloncat dan kabur dari sana..! “ Kamu inget ga..waktu Aley pertama ke mari? Dia masih culun yah…ga sangka dia ada keinginan seberani itu..” aku menelan ludah. Aku sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Dan aku benar-benar ingin muntah! “ Menjadi seorang selibater..seorang suster..coba kamu bayangkan Des..lajang seumur hidup..bekerja untuk orang miskin..dan menderita demi orang yang kekurangan…ga sangka banget gadis seperti dia,,selembut dan semanis dia..mestinya dia bisa memilih jalan hidup yang lain kan..menikah..karirnya juga sedang menanjak,,penggemarnya banyak..buku-bukunya best seller..kurang apa coba..dulu aku berpikir menjadi selibater hanya untuk pelarian..tapi Aley membuka mataku..” “Bu..” “ Aku tahu kamu dan Aley sempat tidak akur..” aku bergetar..dan mulai ketakutan..” Apa kamu mencintai dia..?” dan bom itupun meledak juga. “ Bu..aku..bagaimana ibu bisa bilang..saya mencintai dia,,? Bahkan saya dan dia ga pernah akrab,,,saya..ibu nih salah..” aku memaki diriku. Aku gelagapan. Bu Sasha pasti sangat yakin sekarang bahwa aku sedang berusaha kuat menyembunyikan segalanya. Dan sekarang semuanya berserakan.. “Kenapa harus di sembunyikan Des..aku juga pernah mencintai. Dan orang yang ku cintai itu orang yang salah. Aku tersiksa bertahun-tahun karena menyembunyikan dan selalu lari. Dan sekarang aku menyesal sekali..karena aku ga bisa mengembalikan waktu itu..memutar kembali moment itu..untuk mengatakan perasaanku..memang menyedihkan mencintai orang yang salah..tapi lebikh menyedihkan bila kamu terus bersembunyi dan melarikan diri daripada menghadapinya dan mengatakannya…” aku merasa duniaku sudah hitam. Aku jungkir balik dan terbang entah ke mana. Boss ku menembak dengan telak. Entah bagaimana beliau bisa tahu? Apakah aku yang kurang lihai bersembunyi? Jangan-jangan malah semua orang sekantor sudah tahu…aku benar-benar tak tahu. Aku sudah tak bisa mengelak. Aku memang mencintai Aley. Tapi aku tak bisa memaafkan diriku yang telah jatuh cinta pada seorang calon suster. Aley di ciptakan bukan untukku. Dia punya jalan sendiri. Dan aku juga. Tapi sangat menyakitkan melihatnya tertawa saat aku kesakitan menahan pedih saat dia mengumumkan akan resign dan menjadi seorang lajang abadi..seorang suster. Dan kilas balik awal perjumpaanku dengan Aley berlangsung acak berganti-ganti dengan awal dia mulai menghindari aku..awal aku mulai merasakan,,dia juga mencintai aku..
“ Aku tahu kalian punya rasa yang sama. Tapi itulah garis takdir..” Sekali lagi aku terjerembab. Bu Sasha seorang paranormal kah? “ Tapi bagaimanapun nantinya..kamu harus bilang ke Aley. Kalo Aley memang untukmu..kurang dari sedetikpun dia mau masuk ke pintu biara,,dia akan berbalik dan berlari padamu. Cobalah. Jangan sampai kamu menyesal seumur hidupmu..” kata-kata itu…akhirnya ku bawa hingga keesokan pagi…
Pagi itu Aley nampak sangat sibuk. Tapi aku tahu dia bahagia. Matanya penuh dengan sinar. Senyumnya selalu merekah kepada siapa saja. Aku nyaris membatalkan niatku untuk menyampaikan nasihat Bu Sasha. Kalo dia sudah bahagia begitu..masa aku lah yang jadi pengacau itu? Tapi tiba-tiba Aley menepuk bahuku dari belakang saat aku sedang berbalik dan bersiap pergi. “ Hai!” dia menatapku. Bukan lagi seperti dulu,,tatapan malu-malu atau marah saat kami sedang bersitegang. Dia menatapku dengan mata penuh bintang..Tuhan..tolong aku ingin lari… “ Aku punya sesuatu untukmu..” tiba-tiba tangan kurus Aley meraih tanganku. Aku jadi ingin tersenyum. Dulu aku sempat menertawakan perbedaan tangan kami saat kami sedang bersalaman atau kerja bareng. Tangannya yang amat mungil. Dan tanganku yang besar. Aku bahkan merasa tangan Aley ga normal…aku jadi tersenyum..Tapi senyum itu berganti menjadi kerutan saat aku tahu apa yang di berikan Aley dalam genggamanku. Sebuah gelang Rosario. “ ini Rosario keberuntunganku. Sejak Rosario kesayanganku hilang,,aku lebih suka memakai gelang ini. Bisa nyantol kemanapun aku pergi dan aku bisa berdoa dengan mudahnya di mana saja..dan kamu tahu ga..setiap kali aku merasa sedih aku berdoa dan saat menggemggamnya tangan Tuhan serasa dekat sekali dan menggenggam tanganku. Kamu boleh percaya boleh ga..tapi setiap kesedihan itu berbuah manis juga lo..dan aku…ingin kamu bahagia..seperti apa yang di berikan Tuhan padaku” aku menatap gelang Rosario itu. Aley memang selalu memakainya sejak 1 tahun ini..dan semua juga tahu Aley selalu tak pernah lepas dari gelang itu..” Tapi ini kan gelang keberuntunganmu..” Aley tersenyum,, “ Aku telah menemukan apa yang ku cari..dan aku percaya apa yang ku pilih akan membuat ku bahagia dan selalu terberkati. Jadi..lebih baik aku menularkan apa yang aku yakini kepada yang lain. Gelang ini selalu penuh dengan harapan dan cinta. Aku ingin kamu menemukan kebahagiaanmu Des…” dia memanggilku. Selama ini dia memanggilku dengan embel-embel mas seperti lainnya..meski umurnya lebih tua 3 tahun dariku. Tapi sebagai atasannya ada tradisi tak tertulis di kantor ini untuk memanggil dengan julukan mas atau mbak selain untuk menanamkan rasa kekeluargaan agar tak ada senjang di antara kami. Tapi kali ini Aley benar-benar membuatku kaget… “ Maaf..memanggilmu seperti itu..bukannya tidak sopan..tapi aku ingin perpisahan ini adalah awal dari persahabatan kita. Kalo memanggil nama rasanya kan lebih akrab yah..” aku tersenyum. Aley..Aley..tiap kata-katanya sealu membuat aku tersenyum dan tertawa. Aley memang suka dan duka ku. Menciptakan bahagia sekaligus juga kepedihanku. “ jaga baik-baik gelang itu yah..buat kamu terjaga untuk berdoa yah..dan..jaga diri kamu juga..jangan sampai sakit seperti kemarin-kemarin..” Aley menunduk. Lalu pamit dan berbalik. Tapi aku tahu dia sedang menangis.. “ Aku akan bahagia Ley,,untuk kamu..” ujarku agak keras. Langkahnya makin cepat. Entah bagaimana mulanya,kakiku segera bergerak cepat,aku berlari mengejarnya. Aku mencekal tangannya cepat. Aley kaget dan menatapku. Benar. Dia sedang menangis. Matanya merah dan pipinya yang tirus penuh dengan air mata. Aku menggenggam tangannya erat-erat. “ Tolong jangan bersembunyi lagi..aku capek dan lelah Ley..aku tahu kamu juga. Kenapa ga kita sudahi saja,,dan mengawalinya..tolong Ley..” Aley menunduk makin dalam. Dan genggamanku makin kuat. Sebentar saja Aley telah tenggelam dalam isaknya. Aku jadi merasa menjadi seorang pendosa besar. “ Ya sudahlah..aku ga akan maksa kamu kok. Aku akan bahagia dan harusnya aku memang bahagia bila kamu bahagia. Kalo mencintai itu seperti hujan atau angin,,merelakan begitu saja dan percaya akan satu saat pasti akan kembali bila dia memilihmu..aku juga akan begitu. Aku…akan menunggumu..” dan berlalu begitu saja. Kata-kata manis dan romantic yang sedari malam aku susun dan aku pikirkan hilang entah ke mana. Aku ga bilang aku mencintai dia dan memohon dia agar tidak pergi. Aku malah membiarkan dia pergi..dan mengatakan aku akan menunggu..sebernarnya bukan itu..aku ga akan tahu jawabnnya..tapi hatiku yang morat marit sudah terlanjur porak poranda untuk ku rapikan dan berbalik lagi pada Aley..ga..ini sudah benar. Aku memang mencintai dia. Tapi aku ga berhak memiliki apa yang bukan untukku..mungkin kata-kata asal itu benar..bila mencintai itu seperti hujan atau angin yang datang dan pergi,,saat dia pergi..kau harus merelakannya,,dan tetap menunggu..dan saat dia datang kembali..dia memang di ciptakan untuk kau miliki..dan memilikimu..dan itulah yang akan ku lakukan. Menunggu..dan saat dia kembali dan menemuiku,,dia adalah milikku… lorong kantor menjadi gelap dan sangat sunyi. Aku terus melangkah dan akhirnya menemukan ujung llorong yang terang benderang. Wajah-wajah penuh dengan keritan dan langkah-langkah tergesa. Dan sapaan setengah terpaksa dari anak buahku saat melihatku. Aku tersadar. Jalan selalu ada ujungnya. Juga lautan..satu saat dia akan bermuara..dan aku akan menunggu cinta itu bermuara padaku..entah sampai kapan..tapi aku percaya..Tuhan mendengar doaku..
Ubud,3 tahun kemudian
Bulan Desember selalu penuh dengan orang-orang. Turis local maupun asing selalu membanjiri tempat ini. Hari ini aku capek sekali. Ada 5 orang kolektor lukisan dan patung yang berkutat di galeriku dari siang hingga jam 9 malam ini. Aku duduk di joglo sambil memandangi langit. Lumayan tenang mala mini. Setidaknya aku bisa menyandarkan punggungku di bale-bale ini. Aku mulai merebahkan tubuhku,,dan menatap langit yang kebetulan penuh bintang. Kata orang melihat langit yang sedang penuh bintang adalah berkah. Karena bintang menlambangkan harapan. Siapa tahu ada bintang jatuh,,dan doa pun terkabul. Aku tersenyum tipis. Itu mitos. Entah berapa ratus kali aku memandangi bintang dari manapun dari tempat apapun dan saat melihat bintang jatuh 4 kali belum pernah doaku terkabul. Aku menggelengkan kepala. Mungkin doaku yang terlalu muluk dan impianku terlalu tinggi..atau itu memang hanya mitos dan dongeng pengantar tidur saja.. aku memejamkan mataku.
Aku terbangun saat melek matahari sudah menerpa wajahku. Ya ampun,,sudah pagi…!! Aku segera bangkit..tapi mendadak gerakanku terhenti. Sebuah loli pop dengan bungkus coklat tergeletak di sampingku. Aku melihat ke sekeliling. Tidak ada orang. Atau tadi ada anak kecil yang telah ke sini dan ketinggalan loli popnya? Aku mengambilnya lalu berdiri pergi. “ Pagi mas,,” Aku mengangguk saat tukang kebun ku menyapaku. “ Pak…” aku berbalik dan menghampirinya, “ Ya mas?” “ Mmm..tadi ada yang mampir ke sini tidak pak? Atau ke bale-bale sana?” “ Saya tidak melihat siapapun…ehmm..tunggu,,sepertinya tadi ada yang melihat-lihat galeri. Tapi Cuma lewat lalu pergi..” “Siapa? Mau beli lukisan? Bapak yang kemarin ya?” Pak Samin menggeleng,” Bukan bapak mas..tapi seorang gadis. Mungkin turis local sedang jalan-jalan. Dia juga memotret sana sini..” gadis? Gadis siapa..aku menatap nanar..dan entah pikiran dari mana yang membuatku langsung teringat… “ Dia..kecil..mungil,,,dengan permen loli pop nya?” “ Loh? Mas tahu?” aku bergetar. Ya Tuhan..dia kembali..dia kembali untukku,,dia ada di sini..! Tuhan telah menjawab doaku!! Aku berlari dan terus berlari. Di setiap galeri aku berhenti namun tidak ku temukan dia. Mataku nanar menatap ke sekeliling. Aku tak peduli pandangan aneh orang-orang yang melihatku. Aku harus menemukannya..harus!! Aku berlari lagi..nyaris menabrak motor. Makian aneka rupa segera menyambutku. Aku terus berjalan dan berlari seperti kesetanan,seperti orang gila atau apapun,,aku tak peduli.. dan akhirnya aku berada di tengah jalan..tepat sebuah truk berbelok dan menyongsongku… dan tiba-tiba aku terjatuh… “ dasar tolol! Gila!” aku menatap sosok di sebelahku. “ kamu bisa mati tahu!” “ kamu…” aku meraih tubuh gadis mungil itu erat.. “ Desta..!” “ Aley..aku tahu kamu pasti kembali..” bisikku…

….bila mencintai seperti hujan atau angin yang datang lalu pergi..hanya satu yang bisa kau lakukan..relakanlah,,dan tunggulah…bila dia kembali ke tempat kau berada,,dia adalah milikmu..yang menyejukkanmu,,saat kau hampir mati kekeringan,,,atau merasakah sejuknya angin saat kau hampir lemas karena kegerahan…dia adalah cinta yang memang di ciptakan untukmu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar